Drama “The Leading Stars” iQiyi Raih Rekor Penonton di Asia

Drama “The Leading Stars” iQiyi Raih Rekor Penonton di Asia

JAKARTA, iQiyi mengumumkan bahwa drama serial “The Leading Stars”, yang menampilkan Dracin Ryan Cheng dan Shen Yu Jie, telah melampaui 150 juta tampilan dalam tiga minggu pertama sejak penayangan perdana pada 12 Juli 2026. Serial ini, diproduksi oleh studio produksi lintas‑negara, berhasil menembus pasar utama Asia Tenggara, Korea Selatan, dan Jepang, sekaligus meraih pujian kritis dari media hiburan terkemuka.

Serial “The Leading Stars” mengusung tema persaingan industri hiburan, dengan alur yang memadukan intrik bisnis, romansa, dan konflik personal. Kedua pemeran utama, Dracin Ryan Cheng (sebagai Alex Wu) dan Shen Yu Jie (sebagai Mei Lin), menampilkan chemistry yang kuat, sehingga menarik perhatian penonton berusia 18‑35 tahun. Produser eksekutif iQiyi, Li Hao, menyatakan bahwa keputusan menampilkan dua bintang ini didasarkan pada data tren popularitas mereka di platform musik dan film pendek.

Sinopsis dan Daya Tarik Cerita

Serial ini mengisahkan Alex Wu, seorang produser muda yang berjuang mengangkat label musik independen menjadi raksasa industri. Di sisi lain, Mei Lin, seorang manajer bakat yang cerdas, berusaha melindungi artis‑artis berbakat dari eksploitasi. Konflik muncul ketika kedua karakter tersebut harus bekerja sama dalam proyek kolaboratif yang berisiko tinggi.

  • Konflik utama: Persaingan antara label besar dan indie.
  • Elemen unik: Penggunaan musik original yang diproduksi oleh artis‑artis lokal.
  • Target penonton: Penggemar drama musikal dan cerita bisnis.

Karakter Dracin Ryan Cheng

Alex Wu digambarkan sebagai visioner yang penuh semangat namun sering terjebak dalam dilema etika. Cheng mengaku menghabiskan tiga bulan melakukan riset tentang dunia manajemen musik sebelum memulai syuting, sehingga penampilannya terasa otentik.

Karakter Shen Yu Jie

Mei Lin menampilkan sisi empatik dan taktis. Shen menyebut bahwa ia terinspirasi dari manajer artis nyata yang ia temui selama tur promosi di Shanghai pada akhir 2025. Pendekatan ini memberi kedalaman pada dialog-dialog kritis dalam serial.

Statistik Penonton dan Pencapaian

Berikut data kunci yang dirilis iQiyi pada 18 Oktober 2026:

Metode Pengukuran Nilai Keterangan
Tampilan 7 hari pertama 68 juta Mencapai puncak pada episode 2
Total tampilan 3 minggu 152 juta Menjadi serial non‑film teratas 2026
Rating rata‑rata (IMDb) 8,7/10 Peningkatan 0,4 poin dibanding musim lalu
Interaksi media sosial 4,2 juta tweet Hashtag #TheLeadingStars trending di 12 negara
Penjualan merchandise US$ 3,5 juta Kaos, poster, dan soundtrack resmi

Data tersebut menunjukkan pertumbuhan penonton yang konsisten, terutama di pasar Indonesia, Filipina, dan Malaysia, di mana rata‑rata durasi menonton per sesi mencapai 27 menit. Selain itu, iQiyi melaporkan peningkatan 22 % dalam langganan baru selama periode peluncuran.

Reaksi Kritikus dan Penonton

Beberapa kritikus hiburan menyoroti kualitas sinematografi dan skor musik yang “memukau”. Majalah Variety Asia menuliskan, “‘The Leading Stars’ berhasil menggabungkan drama bisnis dengan sentuhan romantis tanpa mengorbankan alur utama.” Sementara itu, komentar penonton di platform media sosial menekankan keaslian karakter dan dialog yang “relatable”.

“Saya tidak menyangka drama tentang industri musik bisa begitu mengena,” tulis pengguna Instagram @cinephile.id.

Dampak pada Industri Streaming

Keberhasilan “The Leading Stars” menandai langkah penting iQiyi dalam memperluas basis penonton di wilayah Asia Tenggara. Menurut laporan Digital Market Insights (2026), platform streaming yang menampilkan konten original berbahasa Mandarin mengalami pertumbuhan rata‑rata 18 % dibandingkan konten berbahasa Inggris.

Dengan pencapaian ini, iQiyi berencana meluncurkan dua spin‑off pada kuartal pertama 2027, yang akan mengeksplorasi latar belakang karakter pendukung. Langkah tersebut diharapkan memperkuat ekosistem konten lokal dan meningkatkan retensi pelanggan.

Secara keseluruhan, “The Leading Stars” tidak hanya mengukir rekor penonton, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas‑budaya dapat menghasilkan karya yang resonan di pasar global. Keberhasilan ini memberi sinyal kuat bahwa produksi drama berbahasa Mandarin memiliki potensi besar untuk mengisi ruang hiburan digital di Asia pada era streaming yang semakin kompetitif.